Alhamdulillah Hari-hari penyembelihan hewan qurban telah usai, lingkungan masyarakat kami telah bersuka ria dengan menyembelih hewan qurban dari tanggal 6 s/d 9 Nopember 2011. Ada yang dilaksanakan oleh panitia Masjid Nurul Anwar yaitu 2 ekor sapi dan 4 ekor kambing, adapula yang dilaksanakan oleh keluarga dirumah masing-masing, ada 3 ekor sapi dan 2 ekor kambing dan masih ada lagi. Sekali lagi alhamdulillah.
Tetapi tidak kalah pentingnya adalah mengambil hikmah ibadah qurban itu sendiri. Keutamaan qurban sebagaimana disebutkan dalam hadits:
Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai oleh Allah selain menyembelih hewan. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak pada hari kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulu, dan kuku kukunya. Sesungguhnya sebelum darah kurban itu mengalir ke tanah, pahalanya telah diterima Allah. Maka tenangkanlah jiwa dengan berkurban. (HR. Tirmidzi)
Di antara ulama pondok pesantren, ada seorang ulama yang memiliki keahlian melukis. Beliau adalah KH Ridhwan Abdullah. banyak jasa beliau di bumi Indonesia terutama di kalangan Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Dalam kancah ulama NU, beliau dikenal sebagai pencipta lambang NU.
KH Ridwan Abdullah dilahirkan di Bubutan Surabaya pada tanggal 1 januari 1884. Ayah beliau adalah KH Abdullah.Sesudah tamat dari Sekolah Dasar Belanda, KH Ridwan Abdullah belajar (nyantri) di beberapa pondok pesantren di Jawa dan Madura. Di antaranya pondok pesantren Buntet Cirebon, pondok pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo dan pondok pesantrenKademangan Bangkalan Madura.
Pada tahun 1901, KH Ridwan Abdullah pergi ke tanah suci Mekah dan bermukim disana selama kurang lebih tiga tahun kemudian pulang ketanah air. Pada tahun 1911 beliau kembali lagi ke Mekah dan bermukim disana selama 1 tahun.
Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak
manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan.
Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini dan buat apa semua manusia
dikumpulkan, mungkinkah ah aku tidak mau mengira-ngira. Rasa takutku makin
menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati
dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku.
"Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil,
tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang
kukenal. Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari
penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari
amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia
selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.
Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku
mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang
mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan…...Aku dan semua manusia lainnya masih
menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian,
terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan
dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga
yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk
dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi,
sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang
yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.Akhirnya,
nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam
deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan
baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum
pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun
jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah
para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat
Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita
pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.
Paranabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam
daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan
syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para
pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah
akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima
para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat
Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga
sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah
itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai
perjuangan pembelaan agama Allah. Sementara itu, dadaku
berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan
anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga
kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku
yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan
dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.
"Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku," aku terperangah melihatnya
melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah
bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan
biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa
berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba,
orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang mie
itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain."
Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku. Lalu
berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya
selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu
mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku.
Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski
tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam
kebencian meski kau tolak." Masya Allah murid-murid pengajian yang aku
bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jamaah
masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu
mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit
mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari
pada berbicara," jelasnya lagi. Aku semakin penasaran dan terus menunggu
giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah
ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai
kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia aku
banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak
berdakwah, izinkan aku ke surgaMu."
Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak
berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya
untuk berbicara. "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk
kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas
status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan,
dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak
untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya. Anak-anak yatim, Parmin, mbok
Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jamaah masjid dan banyak lagi
orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke
surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas
untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan
dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka,
tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari
pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.
Termasuk
Manakah Aku ?
Jam dinding berdentang tiga kali.
Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah ternyata Allah telah menasihatiku
lewat mimpi malam ini.
Buat teman2ku semua, maafkan aku
kalau kalian pernah tersakiti olehku, bye my love